Dalam lingkungan manufaktur, desain engineering tidak hanya dituntut memenuhi fungsi produk, tetapi juga harus dapat diproduksi secara konsisten, efisien, dan sesuai dengan kapabilitas proses manufaktur yang tersedia di workshop. Pendekatan Design for Manufacturability (DFM) menjadi kunci untuk menjembatani kebutuhan desain dan realitas produksi. Dengan menggunakan 2D CAD DWG sebagai media komunikasi teknik utama.

Design for Manufacturability (DFM) merupakan pendekatan desain yang berfokus pada pembuatan produk yang secara teknis benar, mudah diproduksi, dan minim risiko error saat proses manufaktur. Dalam praktik engineering, DFM diwujudkan melalui technical drawing 2D CAD yang mendefinisikan geometri, dimensi, toleransi, material, dan instruksi produksi secara jelas dan terstandarisasi. Dengan demikian, desain tidak hanya menjadi representasi visual, tetapi juga dokumen teknis yang siap dieksekusi di lini produksi / workshop.

Mengapa DFM dan 2D CAD menjadi krusial?

Tanpa penerapan DFM yang baik, desain berpotensi menimbulkan masalah seperti salah interpretasi gambar, rework, scrap yang banyak, dan keterlambatan produksi. 2D DWG CAD berperan penting karena menjadi bahasa teknis universal antara design, manufacturing, dan quality. Gambar 2D yang lengkap dan akurat memungkinkan setiap pihak memahami design intent yang sama. Sehingga risiko perbedaan persepsi dapat ditekan dan proses produksi berjalan lebih efisien.

DFM bukan hanya tanggung jawab design engineer, tetapi melibatkan seluruh fungsi teknik di perusahaan manufaktur. Drafter memastikan gambar teknik sesuai standar dan mudah dibaca serta dipahami. Manufacturing engineer memvalidasi kesesuaian desain dengan proses produksi. Sementara quality engineer memastikan toleransi dan spesifikasi dapat dikontrol. Dengan 2D CAD sebagai referensi bersama, seluruh tim bekerja berdasarkan satu sumber data yang konsisten.

Pendekatan DFM berbasis 2D CAD diterapkan di lingkungan engineering dan manufaktur dengan menggunakan beberapa software. Contohnya seperti AutoCAD, DraftSight, SOLIDWORKS, atau CATIA. Software tersebut digunakan untuk proses machining, fabrication, assembly, maupun additive manufacturing. Penerapan DFM tersebut menjadi sangat penting pada fase detail design, drawing release, serta komunikasi teknis dengan vendor atau supplier eksternal.

Yang paling penting, yaitu penerapan DFM sejak pada tahap awal desain, bukan setelah muncul masalah di workshop. Dimulai dari pembuatan layout 2D, dilanjutkan ke 3D modeling, hingga drawing final untuk release ke produksi. Setiap perubahan desain (ECR/ECO) juga harus melalui evaluasi DFM agar perubahan tersebut tidak menimbulkan dampak negatif pada proses manufaktur.

Berikut ini adalah beberapa tips untuk mengoptimalkan desain agar manufacturable:

  1. Gunakan 2D CAD drawing sebagai referensi utama produksi, lengkap dengan dimensi, toleransi, material, dan manufacturing notes
  2. Pastikan gambar teknik jelas, tidak ambigu, dan mengikuti standar drafting yang berlaku
  3. Mulai desain dari layout 2D sebelum masuk ke 3D modeling untuk menetapkan dimensi dan interface kritikal
  4. Jaga konsistensi antara 2D drawing dan 3D model agar tidak terjadi mismatch saat produksi
  5. Gunakan standard file formats (DWG, DXF, STEP) untuk memudahkan pertukaran data lintas software
  6. Manfaatkan cloud-based CAD seperti DraftSight untuk version control dan memastikan semua tim menggunakan data desain terbaru
  7. Libatkan manufacturing dan quality engineer dalam design review berbasis drawing 2D

Apabila Anda ingin mencoba langsung menggunakan DraftSight 2026, Anda bisa download pada link berikut ini (Download DraftSight 2026)

Untuk informasi lebih lanjut mengenai harga terbaik DraftSight 2026, Anda bisa chat WA di nomor 0813 5000 4156 https://wa.me/message/BGM2OOKP3Z3KG1  atau email ke info.solidworks@arismadata.com

Categories:

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *